Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

HAlooow,,,Sebenarnya, minggu ini cukup ngenes di hati saya karena dengan sangat berat hati saya terkena flu dan batuk yang sangat berat. Tidak hanya itu saja, saya terkena gejala DBD saudara-saudara yang mengharuskan saya dirawat selama 2-3 hari. Saya pun tidak bisa merayakan puasa pertama bersama kedua ortu tercinta karena masih  bertugas di daerah rantauan. Namun, walaupun begitu, tentu saja itu tidak menyurutkan kebahagiaan saya untuk menyambut ramadhan ini.

Sebelum memulai bulan puasa ini, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Maaf Lahir dan Bathin bila ada kesalahan dalam menulis atau berkata-kata. Semoga amal ibadah kita di bulan puasa ini diterima di sisi Allah SWT. Akhir kata, Selamat menunaikan ibadah tarawih yang pertama, ibadah sahur yang pertama dan Ibadah puasa yang pertama juga. Semoga diberikan kelancaran, kesehatan dan keselamatan sampai lebaran nanti.

Semangat!!!

MArhaban YA RAMADHAN…ūüôā

Parisa Look-alike Meter

MyHeritage: Family treesGenealogyCelebritiesCollageMorph

Hallloooww, ini adalah salah satu aplikasi lain dari web celebrity collage namanya “like A Look Meter”. Aplikasi ini juga menarik menurutku. Karena bisa tau kemiripan kita dengan ibu dan ayah. Tidak menutup kemungkinan juga pacar, suami, anak bahkan artis.

Jadi bagi kamu-kamu nih yang lagi terjebak cinta segitiga atau punya gebetan banyak dan bingung buat milih mana yang paling tepat. Ini bisa dijadiin solusi, secara orang-orang kan sering bilang, “Wah kamu dengan pacar kamu mirip, pasti jodoh deh.”. Nah ini dia aplikasinya, kamu-kamu tinggal masukin aja dua foto gebetan kamu. Sejauh ini yang aku tau cuma bisa 2 foto. So, bagi yang punya gebetan 3 atau lebih mungkin harus melewati 2 tahap. Hahaha..

Enggak menutup kemungkinan juga, bagi kamu-kamu yang mau tau itu anak lo apa bukan (haha) sembari nunggu tes DNA, tes like a look meter dulu aja. Eh, siapa tau ketahuan kan tu anak mirip siapa. Hahaha.. Juz kidz..

Oke kalau mau cobain ini langsung aja maen ke websitenya.

Semoga bermanfaat.

Gut Luck ^.^

Celebrity Collage by MyHeritage

MyHeritage: Celebrity CollageFree family treePedigree

Sebenarnya udah lama aku pengen cari aplikasi “celebrity look a like” tapi setiap ngenet selalu kelupaan, pas lagi inget internetnya yang lemot. Alhamdulillah, hari ini kenarsisan aku mulai terkuak. Horeeeeee.. ada artis yang mirip akuuuu.. Haha..

Bagi kalian yang pengen nyobain aplikasi ini, coba aja klik link ini http://celebrity.myheritage.com/celebrity-collage. Setelah masuk, silahkan cari foto kalian yang pengen di bandingkan, lalu upload. Tunggu sebentar nanti keluar sendiri hasilnya. Kamu tinggal pilih mana yang mau ditampilin dan mau dalam format apa ditampilinnya. Selamat mencoba ya. Semoga bermanfaat. Good Luck.

NB. Oya, aplikasi ini bisa recognize 2 orang dalam satu foto loh. Mungkin bisa lebih tapi aku belum coba. Jadi, misalnya kamu foto berdua, nanti dua-duanya bakal ditampilin.

Internship vs Koas vs PTT

dokter internship

Hmmm.. Terakhir nulis 19 Agustus 2011, sekarang 29 Maret 2012. Gw “tekdung” nulis 7 bulan.. Lama juga ya, mungkin aspirasi (Mungkin lebih tepatnya *Inspirasi) gw mulai buntu karena pengaruh umur. Sebenarnya dibilang buntu enggak juga sih, permasalahannya gw tipe orang yang meletup-letup, kalo lagi seneng nulis ya nulis, lagi sedih ya nulis, lagi bosen nulis cuma kalo lagi males gw milih mematung depan TV or tidur. Nah kebanyakan yang terakhir ini yang paling sering mendera gw.

Pengen cerita apa ya, hmm… mungkin dari aktivitas aja dulu kali ya. Sekarang gw udah selesai KOAS, gelar S. Ked kini telah berganti jadi Dokter (dr.). Horeeeee… akhirnya selesai kuliaaah dan aktivitas sehari-hari gw kini adalah sebagai DOKTER INTERNSHIP, dibilang koas bukan dokter PTT juga bukan. Program ini merupakan program dari KKI pusat yang konon katanya berguna untuk menghasilkan dokter yang siap pakai alias siap saji alias “Fast Food”.

Gw sendiri agak excited secara kita-kita angkatan pertama yang internship dari fakultas kedokteran Unsri. Syarat internship ya lulus Uji Kompetensi Dokter. Udah itu kita-kita di tentuin tempatnya oleh Dinkes Provinsi Palembang dapat penempatan di mana lewat cara diundi kayak ngambil arisan gituh. Alhasil, gw dapat penempatan di RSUD Dr. H. M. Rabbain Muaraenim. Terhitung tanggal 5 Februari 2012 gw udah bertugas di sana sampai dengan 4 Februari 2012. Berhubung Muaraenim itu jaraknya 4-5 jam dari tempat tinggal gw, jadi gw ngontrak rumah karena enggak mungkin banget PP Palembang Muaraenim. Setelah packing-packing, nangis-nangis dengan bokap nyokap gw pun berangkat merantau ke Muaraenim.

Hari pertama kami pergi ke Dinkes Kabupaten terus langsung dianter ke Rumah Sakit. Kami berlima belas orang ini enggak semuanya di RS, 10 ajo yang di RS dengan pembagian (5 UGD 5 Poli) sedang 5 lainnya Puskesmas. 1 minggu pertama kita-kita yang di RS masa orientasi tapi yang di puskesmas langsung tugas + jaga malam. Dokter Internship tidak diperbolehkan untuk praktek di luar lingkungan rumah sakit. STR dan SIP yang ada hanya terbatas untuk lingkungan internship saja. Busyeeet.. setelah gue pikir-pikir mungkin koas ama dokter internship rada-rada mirip kali ya, bedanya kita-kita digaji aja per 3 bulan, kalo dengan PTT mungkin Beda gaji ama tugas aja kali ya, gaji PTT lebih gede. Hehe.. 

Sekarang udah jalan 2 bulanan, “baru 2 bulan Ya Allah.. baru 2 bulaaaaan”, ternyata kehidupan dokter internship enggak parah-parah bener kok. Malah terkesan menyenangkan, wawasan bertambah luas misal lo mau ngitung cairan maintenance pada anak, cara cepat tanpa kalkulator pake aja infus makro gtt-nya samain dengan BB; pergaulan juga bertambah dengan dokter-dokter spesialis, kakak-kakak residen, ayuk-ayuk perawat, detil-detil kemaren gw dapet pena ma kalender; fashion juga dapet terbukti dengan gw beli maskara anti badai bener-bener anti badai kalo pake itu kayak pasien seperti melihat dibelakang tirai. Dijamin juga enggak bakal kelaperan, ada bagelan, pempek, martabak, rambutan, duku,dll. So Far So Good Is Very Good.

Bagi kalian yang belum merasakan apa itu internship jangan takut yah coz Internship itu sangat sangatlah menarik.. Memang segala sesuatu pasti ada suka dukanya tapi Intinya, Jalani pekerjaan kamu dengan rasa ikhlas dan antusiasme yang tinggi dijamin seberat apa pun pekerjaan kamu, selelah apapun kamu pasti pekerjaan itu akan terasa menyenangkan. Segala sesuatu itu baik buruknya tergantung niat. So, dont affraid with something new, lakukan saja semuanya sebaik mungkin agar tidak ada penyesalan di masa mendatang..

Proposal Pelayanan Kesehatan “Faktor Resiko dan Bahaya Striktur Uretra”

I.    PENDAHULUAN

I.1 Fakta deskriptif

Uretra merupakan bagian terpenting dari saluran kemih. Pada pria dan wanita, uretra mempunyai fungsi utama untuk mengalirkan urin keluar dari tubuh. Saluran uretra juga penting dalam proses ejakulasi semen dari saluran reproduksi pria. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra.

Striktur Uretra adalah Penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada uretra dan/ atau pada daerah peri uretra.1,2,3 Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat mengalirkan urin keluar dari tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat menyebabkan banyak komplikasi, dengan komplikasi terberat adalah gagal ginjal.4

Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian dunia tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena uretra pada wanita lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Sesuai data yang penulis peroleh melalui Medical Record yang dirawat di Perawatan Bedah Urologi Perjan RS DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar¬†¬†pada tahun 2004 dari Januari ‚Äď Nopember, terdapat 19 orang yang menderita striktur uretra dimana penderita¬†laki-laki sebanyak 18 orang (94,73 %) sedangkan¬†perempuan sebanyak 1 orang (5,26 %). Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan striktur. Orang dapat terlahir dengan striktur uretra, meskipun hal itu jarang¬†terjadi.5

I.2 Analisis Teoritis dan Empirik

Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap peradangan kronik atau cedera. Radang karena gonore merupakan penyebab penting, tetapi radang lain yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin lain, juga merupakan penyebab uretritis dan periuretritis. Kebanyakan striktur ini terletak di uretra pars membranasea, walaupun juga bisa ditempat lain.

Trauma uretra dapat terjadi pada fraktur panggul dan karena cedera langsung, misalnya pada anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda lelaki sehingga terjadi cedera kangkang.6 Yang juga tidak jarang terjadi ialah cedera iatrogenik akibat kateterisasi atau instrumentasi.7

Faktor risiko ISK ditinjau dari teori Blum dibedakan menjadi empat faktor yaitu: faktor biologi, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (tabel 1)

Faktor Biologi

Faktor Lingkungan

Faktor Perilaku

Faktor Pelayanan Kesehatan

1. Pria lebih  beresiko dari pada wanita.2. Gangguan anatomis dan gangguan saluran kemih lainnya3. Penggunaan alat bantu pada saluran kemih4. Penyakit sistemik atau obat-obatan yang menurunkan sistem imun 1. Lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik (tidak tersedianya air bersih untuk cebok, penggunaan toilet duduk yang kurang memadai) 1. Higiene personal yang rendah2. Kurangkesadaran untuk berobat3. Keterlambatan dalam berobat4. Tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan

 

1. Minimnyapengetahuan petugas kesehatan2. Kurangnyasarana prasarana yang memadai3. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi

4. Tidak adanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit

5. Kurangnya informasi yang diberikan pada masyarakat baik mengenai penyakit, sanitasi(lingkungan), dan perilaku masyarakat


Penyebab lain terjadinya striktur uretra ialah tindakan-tindakan bedah seperti bedah rekonstruksi uretra terhadap hipospadia, epispadia, kordae, dan bedah urologi. Striktur uretra paling sering terjadi pada pria karena uretra pria lebih panjang daripada uretra wanita. Penyebab lainnya ialah tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan congenital, namun jarang terjadi. Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang memiliki riwayat penyakit menular seksual, episode uretritis berulang, atau hipertrofi prostat benigna.8

II.1       RUMUSAN MASALAH PROGRAM

Striktur uretra menyebabkan retensi urin di dalam kantung kemih. Penumpukan urin dalam kantung kemih beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi, yang dapat menyebab ke kantung kemih, prostat, dan ginjal. Abses di atas lokasi striktur juga dapat terjadi, sehingga menyebabkan kerusakan uretra dan jaringan di bawahnya.9 Selain itu, resiko terjadinya batu kandung kemih juga meningkat, timbul gejala sulit ejakulasi, fistula uretrokutaneus (hubungan abnormal antara uretradengan kulit), dan gagal ginjal (jarang).10

Banyak faktor yang menjadi penyebab striktur uretra, namun yang menjadi masalah utama adalah kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya dari striktur uretra ini, terutama berkaitan dengan faktor-faktor penyebab striktur uretra. Dimana hal ini berkaitan dengan perilaku masyarakat seperti seks bebas, mengabaikan cedera dan higienitas organ reproduksi yang tidak baik sehingga angka kejadian meningkat. Sarana prasarana yang kurang memadai merupakan faktor yang penting dalam menyebabkan penderita yang datang berobat terlambat didiagnosis dan pengobatan menjadi tidak tepat atau bahkan tidak adekuat. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat juga petugas kesehatan mengenai striktur uretra.

III.    TUJUAN PROGRAM

III.1   Tujuan Umum

Meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang striktur uretra.

III.2   Tujuan khusus

Meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang faktor risiko dan bahaya striktur uretra didaerah Sekip Palembang tahun 2011.

IV. PROGRAM KEGIATAN

Alternatif program untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan warga adalah:

  1. Mengadakan penyuluhan ke petugas kesehatan dan warga secara langsung mengenai striktur uretra mulai dari pegertian, faktor risiko, gejala, bahaya dan penatalaksanaan striktur uretra serta memberikan informasi-informasi terbaru mengenai striktur uretra. (Materi disesusaikan dengan pendidikan target)
  2. Membuat brosur-brosur yg berisikan informasi ringkas dan lengkap tentang striktur uretra untuk dibagikan kepada warga dan petugas kesehatan.
  3. Menganjurkan kepada pemerintah setempat agar memasukkan penyuluhan berkala bagi warga dan petugas kesehatan sebagai salah satu program kegiatan rutin.

Alternatif terbaik dalam memecahkan masalah striktur uretra adalah dengan mengadakan penyuluhan ke warga dan petugas kesehatan secara langsung mengenai striktur uretra mulai dari pengertian, faktor risiko, gejala, bahaya dan penatalaksanaan striktur uretra serta memberikan informasi-informasi terbaru mengenai striktur uretra.

Alternatif tersebut dipilih karena yang menjadi masalah utama penyebab striktur uretra adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang faktor risiko dan bahaya dari striktur uretra dan perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan higienitas dan kesadaran untuk berobat. Hal ini menyebabkan diagnosis lambat ditegakkan dan pengobatan menjadi tidak tepat atau menjadi terlambat.

Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang striktur uretra meningkat sehingga warga tahu apa yang harus dilakukan agar terhindar dari penyakit striktur uretra dan petugas kesehatan dapat mentalaksana penyakit ini dengan tepat.

V.  STRATEGI INTERVENSI

Strategi dilakukan dengan mengadakan pendekatan kepada pimpinan dinas kesehatan supaya mendukung program penyuluhan bagi petugas kesehatan dan warga agar dapat diadakan secara rutin dan teratur. Materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah tersebut. Hal ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan masyarakat mengenai penyakit yang mungkin jarang terjadi atau sering terjadi, namun membutuhkan penatalaksanaan yang khusus dan segera. Selain itu, petugas kesehatan dan masyarakat juga dapat menambah pengetahuan terutama mengenai informasi-informasi baru dari dunia kesehatan yang mempunyai hubungan dengan kasus tersebut. Semuanya itu akan berujung pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesadaran berobat. Maka, dapat dilakukan audiensi terhadap pihak Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang dalam usaha untuk mengintervensi pihak dinas agar dapat melakukan sebuah program penyuluhan secara rutin bagi petugas kesehatan dan warga di Sekip Palembang.

VI. RENCANA DAN JADWAL KEGIATAN

VI.1  Rencana Kegiatan Persiapan (Preparation Activities)

  1. Penyusunan proposal, perencanaan anggaran biaya, mengurus izin ke Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang
  2. Melakukan audiensi kepada pihak pemerintah setempat, instansi swasta, dan tokoh masyarakat  dalam usaha memcari dukungan baik dari aspek dana maupun legalitas
  3. Persiapan materi kuliah dan pembicara
  4. Persiapan tempat dan alat
  5. Kegiatan publikasi meliputi pemasangan spanduk dan penyebaran undangan ke petugas kesehatan dan warga Sekip Palembang

VI.2  Rencana Kegiatan Pelaksanaan (Implementation Activities)

Penyuluhan ‚ÄúFaktor Resiko dan Bahaya Striktur Uretra‚ÄĚ

Hari/Tanggal    :   Sabtu/ 20 Agustus 2011

Waktu                :   Pukul 08.00-12.00 WIB

Tempat              :   Aula Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang

Sasaran             :   Petugas Kesehatan dan Warga Sekip Palembang

Kegiatan           :   Pengisian kuesioner, kuliah penyegaran, post test

Target               :  100 peserta

VII.     RENCANA PEMBIAYAAN

NO KEGIATAN BIAYA SUMBER DANA
1 Pembuatan proposal Rp. 100.000,00 Dana bantuan dari dinas kesehatan kota
2 Pembuatan dan perbanyakan kuisioner Rp. 1.000.000,00 Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat
3 Spanduk dan undangan Rp. 400.000,00 Kas organisasi
4 Sewa gedung dan peralatan (kursi, sound system, LCD) Rp. 2.000.000,00 Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat
5 Perbanyakan makalah Rp.   500.000,00
6 Honor 3 orang pembicara@ Rp. 250.000,00 Rp.   750.000,00
7 Konsumsi 100 peserta Rp.  1.000.000,00
8 Dokumentasi Rp.   100.000,00
9 Transportasi Rp.   200.000,00
10 Keamanan Rp.   100.000,00
Total biaya yang dibutuhkan Rp.   4.350.000,00


VIII. EVALUASI

Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi meliputi keberhasilan unsur masukan, proses, dan keluaran.

  1. Keberhasilan unsur masukan: adanya kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang dan sponsor, tersedianya dana dan sarana prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan, serta jumlah peserta sesuai dengan target yang ingin dicapai
  2. Keberhasilan unsur proses: terselenggaranya kegiatan penyuluhan ‚ÄúFaktor Risiko dan Bahaya Striktur Uretra‚ÄĚ dengan baik
  3. Keberhasilan unsur keluaran: meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga di sekip Palembang tentang faktor risiko dan bahaya striktur uretra sehingga angka kejadian dan komplikasi-komplikasi yang ditimbulkan striktur uretra dapat dikurangi karena bisa dilakukan deteksi lebih dini dan pengobatan yang tepat.

Instrumen yang dipakai untuk mengevaluasi unsur keluaran adalah kuisioner. Kuisioner yang dipakai untuk post test sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pre test. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas kesehatan dan warga sebelum mendapatkan penyuluhan, apakah terdapat peningkatan pengetahuan.

IX.  PEMANTAUAN

Pemantauan hasil kegiatan sangat bermanfaat untuk mengetahui bahwa tujuan yang telah dicapai melalui kegiatan penyuluhan yaitu peningkatan pengetahuan petugas kesehatan dan masyarakat dalam mengenali faktor risiko dan bahaya striktur uretra, tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya. Pemantauan dilakukan dengan cara pengisian kuisioner oleh petugas kesehatan dan warga di Sekip Palembang secara berkala yakni setiap 6 bulan sekali. Kuisioner yang dipakai untuk post test sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pre test. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas kesehatan dan warga pada saat post test. Apabila terjadi penurunan pengetahuan petugas kesehatan dan warga di bawah target yang telah ditentukan sebelum kegiatan, maka perlu dilakukan penyuluhan kembali.

LAMPIRAN: JADWAL PROGRAM PERENCANAAN (GANTT CHART)

No Kegiatan Pekan
I II III IV V VI
1. Menyusun proposal
2. Pencarian dana dan sponsor
3. Pengadaan sarana dan prasarana kegiatan
4. Penyebaran undangan
5. Pelaksanaan kegiatan
6. Evaluasi kegiatan
7. Pemantauan Setiap 6 bulan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Urethral Stricture Disease. http://www.urologyhealth.org/ adultconditionsbledder/urethralstricturedisease.html, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  2. Stricture Urethra. http://www.strictureurethra.com, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  3. Purnomo Basuki B. Striktura uretra, dalam: Dasar-dasar UROLOGI. Ed 2. CV. Sagung, Jakarta, 2003. Hal; 153-156.
  4. Rochani. Striktur Urethra, dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Binarupa Aksara, Jakarta, 1995. Hal; 152-156.
  5. Urethral Stricture. http://www.drrajmd.com/urology/urethral-stricture, diakses tanggal 18 Agustus 2011.
  6. Trauma Saluran Kemih. http://www.medicastore.com/sabtu 18september2004/164955, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  7. Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2004. Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih Dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal. 752. EGC. Jakarta.
  8. Sabiston, David C. 1994. Penyakit Striktur Uretra. Dalam: Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah Bagian 2, hal.488. EGC. Jakarta.
  9. Anonim. 2005. Urethral Stricture. Accessed: http://www.patient.co.uk/showdoc/urethral-stricture.html.
  10. Wessells, Hunter. 2005. Urethral Stricture Disease. Accessed: http://depts.washington.edu/uroweb/images/stricture_slide1.jpg

1 Tahun

Wah.. Enggak terasa udah hampir 1 tahun aku enggak nulis blog lagi. Bayangkan betapa banyak kejadian dalam hidup gue dalam 1 tahun belakangan ini. Hahaha.. Pada dasarnya aku tidak banyak berubah. Daya pikir semakin tumpul, umur nambah tua and I’m not single anymore (aku udah merit tepat hari ini 5 bulan yang lalu) tapi walaupun begitu semangat nulis ga boleh reda dong. Dengan menulis kita bisa merangkum dunia. (Postulat baru nih..)ūüôā

Mau cerita seputar pengalaman menarik pas tanggal 17 kemaren nih. Alhamdulillah, aku kecicip juga upacara 17 an di istana negara. Ternyata walau aku duduk di barisan ke empat, aku tetap ga bisa liat apa-apa, halamannya luas banget beda dengan di TV, semuanya keliatan jelas, tapi walau begitu tidak mengurangi rasa banggaku kok. Aku terpesona dengan anak dari Maluku apa ya, yang nyanyi lagu ciptaan Pak SBY. Bagus banget, suaranya lembut dan anaknya lucu gayanya. Atraksi dari angkatan udara juga enggak kalah hebatnya.

Kurang lebih ini nih foto-foto yang kuambil kemaren,

Sekali lagi, selamat hari kemerdekaan RI… MERDEKA!!!

Achalasia Esofagus (Refrat Radiologi)

BAB I
PENDAHULUAN

Nita Parisa
0406 1001 036

Akalasia esofagus, atau dikenal juga dengan nama Simple ectasia, Kardiospasme, Megaesofagus, Dilatasi esofagus difus tanpa stenosis atau Dilatasi esofagus idiopatik adalah suatu gangguan neuromuskular. Istilah achalasia berarti “gagal untuk mengendur” dan merujuk pada ketidakmampuan dari lower esophageal sphincter (cincin otot antara esophagus bagian bawah dan lambung) untuk membuka dan membiarkan makanan lewat kedalam lambung. Kegagalan relaksasi batas esofagogastrik pada proses menelan ini menyebabkan dilatasi bagian proksimal esofagus tanpa adanya gerak peristaltik. Penderita akalasia merasa perlu mendorong atau memaksa turunnya makanan dengan air atau minuman guna menyempurnakan proses menelan. Gejala lain dapat berupa rasa penuh substernal dan umumnya terjadi regurgitasi.1,2

Akalasia mulai dikenal oleh Thomas Willis pada tahun 1672. Mula-mula diduga penyebabnya adalah sumbatan di esofagus distal, sehingga dia melakukan dilatasi dengan tulang ikan paus dan mendorong makanan masuk ke dalam lambung. Pada tahun 1908 Henry Plummer melakukan dilatasi dengan kateter balon. Pada tahun 1913 Heller melakukan pembedahan dengan cara kardiomiotomi di luar mukosa yang terus dianut sampai sekarang.1,2,3 Namun, Penyebab dari achalasia ini masih belum diketahui dengan pasti. Teori-teori atas penyebab akalasia pun mulai bermunculan seperti suatu proses yang melibatkan infeksi, kelainan atau yang diwariskan (genetik), sistim imun yang menyebabkan tubuh sendiri untuk merusak esophagus (penyakit autoimun), dan proses penuaan (proses degeneratif).4,5

Achalasia merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi. Prevalensi akalasia esophagus sekitar 10 kasus per 100.000 populasi di mana rasio kejadian penyakit ini sama antara laki-laki dengan perempuan yaitu 1 : 1. Menurut penelitian, distribusi umur pada akalasia biasanya sering terjadi antara umur kelahiran sampai dekade ke-9, tapi jarang terjadi pada 2 dekade pertama (kurang dari 5% kasus didapatkan pada anak-anak). Umur rata-rata pada pasien orang dewasa adalah 25-60 tahun.1,3

Walaupun penyakit ini jarang terjadi tapi kita harus bisa mengenali dan mengatasi penyakit ini karena komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit ini sangat mengancam nyawa seperti obstruksi saluran pernapasan sampai sudden death. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui penegakan diagnosis Akalasia esofagus. Diagnosis Akalasia Esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran radiologik, esofagoskopi dan pemeriksaan manometrik.1 Sifat terapi pada akalasia hanyalah paliatif, karena fungsi peristaltik esofagus tidak dapat dipulihkan kerabali. Terapi dapat dilakukan dengan memberi diet tinggi kalori, medikamentosa, tindakan dilatasi, psikoterapi, dan operasi esofagokardiotomi (operasi Heller).2
‚ÄÉ

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Akalasia esofagus, atau dikenal juga dengan nama Simple ectasia, Kardiospasme, Megaesofagus, Dilatasi esofagus difus tanpa stenosis atau Dilatasi esofagus idiopatik adalah suatu gangguan neuromuskular. Istilah achalasia berarti “gagal untuk mengendur” dan merujuk pada ketidakmampuan dari lower esophageal sphincter (cincin otot antara esophagus bagian bawah dan lambung) untuk membuka dan membiarkan makanan lewat kedalam lambung.1

B. Anatomifisiologi
Esofagus adalah suatu saluran otot vertikal yang menghubungkan hipofaring dengan lambung. Ukuran panjangnya 23-25 cm dan lebarnya sekitar 2 cm (pada keadaan yang paling lebar) pada orang dewasa. Esofagus dimulai dari batas bawah kartilago krikoidea kira-kira setinggi vertebra servikal VI.4 Dari batas tadi, esofagus terbagi menjadi tiga bagian yaitu, pars cervical, pars thoracal dan pars abdominal. Esofagus kemudian akan berakhir di orifisium kardia gaster setinggi vertebra thoracal XI. Terdapat empat penyempitan fisiologis pada esofagus yaitu, penyempitan sfingter krikofaringeal, penyempitan pada persilangan aorta (arkus aorta), penyempitan pada persilangan bronkus kiri, dan penyempitan diafragma (hiatus esofagus).6

Dinding esofagus terdiri dari 3 lapisan yaitu : mukosa yang merupakan epitel skuamosa, submukosa yang terbuat dari jaringan fibrosa elastis dan merupakan lapisan yang terkuat dari dinding esofagus, otot-otot esofagus yang terdiri dari otot sirkuler bagian dalam dan longitudinal bagian luar dimana 2/3 bagian atas dari esofagus merupakan otot skelet dan 1/3 bagian bawahnya merupakan otot polos.1,4,5

Pada bagian leher, esofagus menerima darah dari a. karotis interna dan trunkus tyroservikal. Pada bagian mediastinum, esofagus disuplai oleh a. esofagus dan cabang dari a. bronkial. Setelah masuk ke dalam hiatus esofagus, esofagus menerima darah dari a. phrenicus inferior, dan bagian yang berdekatan dengan gaster di suplai oleh a. gastrica sinistra. Darah dari kapiler-kapiler esofagus akan berkumpul pada v. esofagus, v. thyroid inferior, v. azygos, dan v. gastrica.1,4,5

Esofagus diinervasi oleh persarafan simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus esofagus atau yang biasa disebut pleksus mienterik Auerbach yang terletak di antara otot longitudinal dan otot sirkular sepanjang esofagus.1,4,5 Esofagus mempunyai 3 bagian fungsional. Bagian paling atas adalah upper esophageal sphincter (sfingter esofagus atas), suatu cincin otot yang membentuk bagian atas esofagus dan memisahkan esofagus dengan tenggorokan. Sfingter ini selalu menutup untuk mencegah makanan dari bagian utama esofagus masuk ke dalam tenggorokan. Bagian utama dari esofagus disebut sebagai badan dari esofagus, suatu saluran otot yang panjangnya kira-kira 20 cm. Bagian fungsional yang ketiga dari esofagus yaitu lower esophageal sphincter (sfingter esophagus bawah), suatu cincin otot yang terletak di pertemuan antara esofagus dan lambung. Seperti halnya sfingter atas, sfingter bawah selalu menutup untuk mencegah makanan dan asam lambung untuk kembali naik/regurgitasi ke dalam badan esofagus. Sfingter bagian atas akan berelaksasi pada proses menelan agar makanan dan saliva dapat masuk ke dalam bagian atas dari badan esofagus. Kemudian, otot dari esofagus bagian atas yang terletak di bawah sfingter berkontraksi, menekan makanan dan saliva lebih jauh ke dalam esofagus. Kontraksi yang disebut gerakan peristaltik ini akan membawa makanan dan saliva untuk turun ke dalam lambung. Pada saat gelombang peristaltik ini sampai pada sfingter bawah, maka akan membuka dan makanan masuk ke dalam lambung.5

Esofagus berfungsi membawa makanan, cairan, sekret dari faring ke gaster melalui suatu proses menelan, dimana akan terjadi pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang lunak, proses menelan terdiri dari tiga fase yaitu :
1. Fase oral, makanan dalam bentuk bolus akibat proses mekanik bergerak pada dorsum lidah menuju orofaring, palatum mole dan bagian atas dinding posterior faring terangkat.
2. Fase pharingeal, terjadi refleks menelan (involuntary), faring dan laring bergerak ke atas oleh karena kontraksi m. Stilofaringeus, m. Salfingofaring, m. Thyroid dan m. Palatofaring, aditus laring tertutup oleh epiglotis dan sfingter laring.
3. Fase oesophageal, fase menelan (involuntary) perpindahan bolus makanan ke distal oleh karena relaksasi m. Krikofaring, di akhir fase sfingter esofagus bawah terbuka dan tertutup kembali saat makanan sudah lewat.5

C. Epidemiologi
Prevalensi akalasia sekitar 10 kasus per 100.000 populasi. Namun, hingga sekarang, insidens penyakit ini telah cukup stabil dalam 50 tahun terakhir yaitu sekitar 0,5 kasus per 100.000 populasi per tahun. Rasio kejadian penyakit ini sama antara laki-laki dengan perempuan. Menurut penelitian, distribusi umur pada akalasia biasanya sering terjadi antara umur kelahiran sampai dekade ke-9, tapi jarang terjadi pada 2 dekade pertama (kurang dari 5% kasus didapatkan pada anak-anak). Umur rata-rata pada pasien orang dewasa adalah 25-60 tahun.1,3

D. Etiologi
Penyebab penyakit ini sampai sekarang belum diketahui. Hanya pada penyakit Chagas, penyebabnya telah diketahui.7 Secara histologik, ditemukan kelainan berupa degenerasi sel ganglion plexus Auerbach sepanjang esofagus pars torakal. Dari beberapa data disebutkan bahwa faktor-faktor seperti herediter, infeksi, autoimun, dan degeneratif adalah kemungkinan penyebab dari akalasia.1,2,3,4,5
1. Teori Genetik
Temuan kasus akalasia pada beberapa orang dalam satu keluarga telah mendukung bahwa akalasia kemungkinan dapat diturunkan secara genetik. Kemungkinan ini berkisar antara 1 % sampai 2% dari populasi penderita akalasia.
2. Teori Infeksi
Faktor-faktor yang terkait termasuk bakteri (diphtheria pertussis, clostridia, tuberculosis dan syphilis), virus (herpes, varicella zooster, polio dan measles), Zat-zat toksik (gas kombat), trauma esofagus dan iskemik esofagus uterine pada saat rotasi saluran pencernaan intra uterine. Bukti yang paling kuat mendukung faktor infeksi neurotropflc sebagai etiologi. Pertama, lokasi spesifik pada esofagus dan fakta bahwa esofagus satu-satunya bagian saluran pencernaan dimana otot polos ditutupi oleh epitel sel skuamosa yang memungkinkan infiltrasi faktor infeksi. Kedua,banyak perubahan patologi yang terlihat pada akalasia dapat menjelaskan faktor neurotropik virus tersebut. Ketiga, pemeriksaan serologis menunjukkan hubungan antara measles dan varicella zoster pada pasien akalasia.
3. Teori Autoimun
Penemuan teori autoimun untuk akalasia diambil dari beberapa somber. Pertama, respon inflamasi dalam pleksus mienterikus esofagus didominasi oleh limfosit T yang diketahui berpefan dalam penyakit autoimun. Kedua, prevalensi tertinggi dari antigen kelas II, yang diketahui berhubungan dengan penyakit autoimun lainnya. Yang terakhir, beberapa kasus akalasia ditemukan autoantibodi dari pleksus mienterikus.
4. Teori Degeneratif
Studi epidemiologi dari AS. menemukan bahwa akalasia berhubungan dengan proses penuaan dengan status neurologi atau penyakit psikis, seperti penyakit Parkinson dan depresi.

E. Patofisiologi
1. Neuropatologi
Beberapa macam kelainan patologi dari akalasia telah banyak dikemukakan. Beberapa dari perubahan ini mungkin primer (misal: hilangnya sel-sel ganglion dan inflamasi mienterikus), dimana yang lainnya (misal : perubahan degeneratif dari n. vagus dan nukleus motoris dorsalis dari n. vagus, ataupun kelaianan otot dan mukosa) biasanya merupakan penyebab sekunder dari stasis dan obstruksi esofagus yang lama.1
2. Kelainan pada Innervasi Ekstrinsik
Saraf eferen dari n. vagus, dengan badan-badan selnya di nukleus motoris dorsalis, menstimulasi relaksasi dari LES dan gerakan peristaltik yang merupakan respon dari proses menelan. Dengan mikroskop cahaya, serabut saraf vagus terlihat normal pada pasien akalasia. Namun demikian, dengan menggunakan mikroskop elektron ditemukan adanya degenerasi Wallerian dari n. vagus dengan disintegrasi dari perubahan aksoplasma pada sel-sel Schwann dan degenarasi dari sehlbung myeh’n, yang merupakan perubahan-perubahan yang serupa dengan percobaan transeksi saraf.1
3. Kelainan pada Innervasi Intrinsik
Neuron nitrergik pada pleksus mienterikus menstimulasi inhibisi disepanjang badan esofagus dan LES yang timbul pada proses menelan. Inhibisi ini penting untuk menghasilkan peningkatah kontraksi yang stabil sepanjang esofagus, dimana menghasilkan gerakan peristaltik dan relaksasi dari LES. Pada akalasia, sistem saraf inhibitor intrinsik dari esofagus menjadi rusak yang disertai inflamasi dan hilangnya sel-sel ganglion di sepanjang pleksus mienterikus Auerbach.1,9
4. Kelainan Otot Polos Esofagus
Pada muskularis propria, khususnya pada otot polos sirkuler biasanya menebal pada pasien akalasia. Goldblum mengemukakan secara mendetail beberapa kelainan otot pada pasien akalasia setelah proses esofagektomi. Hipertrofi otot muncul pada semua kasus, dan 79% dari specimen memberikan bukti adanya degenerasi otot yang biasanya melibatkan fibrosis tapi tennasuk juga nekrosis likuefaktif, perubahan vakuolar, dan kalsifikasi distrofik. Disebutkan juga bahwa perubahan degeneratif disebabkan oleh otot yang memperbesar suplai darahnya oleh karena obstruksi yang lama dan dilatasi esofagus. Kemungkinan lain menyebutkan bahwa hipertrofi otot merupakan reaksi dari hilangnya persarafan.1
5. Kelainan pada Mukosa Esofagus
Kelainan mukosa, di perkirakan akibat sekunder dari statis luminal kronik yang telah digambarkan pada akalasia. Pada semua kasus, mukosa skuamosa dari penderita akalasia menandakan hiperplasia dengan papillamatosis dan hiperplasia sel basal. Rangkaian p53 pada mukosa skuamosa dan sel CD3+ selalu melebihi sel CD20+, situasi ini signifikan dengan inflamasi kronik, yang kemungkinan berhubungan dengan tingginya resiko karsinoma sel skuamosa pada pasien akalasia.1
6. Kelainan Otot Skelet
Fungsi otot skelet pada proksimal esofagus dan spingter esofagus atas terganggu pada pasien akalasia. Meskipun peristaltik pada otot skelet normal tetapi amplitude kontraksi peristaltik mengecil. Massey dkk. juga melaporkan bahwa refleks sendawa juga terganggu. Ini menyebabkan esofagus berdilatasi secara masif dan obstruksi jalan napas akut.
7. Kelainan Neurofisiologik
Pada esofagus yang sehat, neuron kolinergik eksftatori melepaskan asetilkolin menyebabkan kontraksi otot dan meningkatkan tonus LES, dimana inhibisi neuron NO/VIP memediasi inhibisi sehingga mengbambat respon menelan sepanjang esofagus, yang menghasilkan gerakan peristaltik dan relaksasi LES. Kunci kelainan dari akalasia adalah kerusakan dari neuron inhibitor postganglionik dari otot sikuler LES.1

F. Gambaran Klinis
Akalasia biasanya mulai pada dewasa muda walaupun ada juga yang ditemukan pada bayi dan sangat jarang pada usia lanjut. Biasanya gejala yang ditemukan adalah
1. Disfagia merupakan keluhan utama dari penderita Akalasia. Disfagia dapat terjadi secara tiba-tiba setelah menelan atau bila ada gangguan emosi. Disfagia dapat berlangsung sementara atau progresif lambat. Biasanya cairan lebih sukar ditelan dari pada makanan padat.
2. Regurgitasi dapat timbul setelah makan atau pada saat berbaring. Sering regurgitasi terjadi pada malam hari pada saat penderita tidur, sehingga dapat menimbulkan pneumonia aspirasi dan abses paru.
3. Rasa terbakar dan Nyeri Substernal dapat dirasakan pada stadium permulaan. Pada stadium lanjut akan timbul rasa nyeri hebat di daerah epigastrium dan rasa nyeri ini dapat menyerupai serangan angina pektoris.
4. Penurunan berat badan terjadi karena penderita berusaha mengurangi makannya unruk mencegah terjadinya regurgitasi dan perasaan nyeri di daerah substernal.
5. Gejala lain yang biasa dirasakan penderita adalah rasa penuh pada substernal dan akibat komplikasi dari retensi makanan.1,2,3,8,9,10
6. Pada anak yang paling sering adalah muntah persisten.11

G. Diagnosis
Diagnosis Akalasia Esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran radiologik, esofagoskopi dan pemeriksaan manometrik.
1. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan radiologi sangat membantu dalam penegakan diagnosis pada suatu penyakit, ini harus dikorelasikan dengan temuan klinis dan riwayat penyakitnya.12 Pada foto polos toraks pasien achalasia tidak menampakkan adanya gelembung-gelembung udara pada bagian atas dari gaster, dapat juga menunjukkan gambaran air fluid level pada sebelah posterior mediastinum. Pemeriksaan esofagogram barium dengan pemeriksaan fluoroskopi, tampak dilatasi pada daerah dua pertiga distal esofagus dengan gambaran peristaltik yang abnormal serta gambaran penyempitan di bagian distal esofagus atau esophagogastric junction yang menyerupai seperti bird-beak like appearance.2,12,13
2. Pemeriksaan Esofagoskopi
Esofagoskopi merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk semua pasien akalasia oleh karena beberapa alasan yaitu untuk menentukan adanya esofagitis retensi dan derajat keparahannya, untuk melihat sebab dari obstruksi, dan untuk memastikan ada tidaknya tanda keganasan. Pada pemeriksaan ini, tampak pelebaran lumen esofagus dengan bagian distal yang menyempit, terdapat sisa-sisa makanan dan cairan di bagian proksimal dari daerah penyempitan, Mukosa esofagus berwarna pucat, edema dan kadang-kadang terdapat tanda-tanda esofagitis akibat retensi makanan. Sfingter esofagus bawah akan terbuka dengan melakukan sedikit tekanan pada esofagoskop dan esofagoskop dapat masuk ke lambung dengan mudah.8,13
3. Pemeriksaan Manometrik
Gunanya untuk memulai fungsi motorik esofagus dengan melakukan pemeriksaan tekanan di dalam lumen sfingter esofagus. Pemeriksaan ini untuk memperlihatkan kelainan motilitas secara- kuantitatif dan kualitatif. Pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan pipa untuk pemeriksaan manometri melalui mulut atau hidung. Pada akalasia yang dinilai adalah fungsi motorik badan esofagus dan sfingter esofagus bawah. Pada badan esofagus dinilai tekanan istirahat dan aktifitas peristaltiknya. Sfingter esofagus bagian bawah yang dinilai adalah tekanan istirahat dan mekanisme relaksasinya. Gambaran manometrik yang khas adalah tekanan istirahat badan esofagus meningkat, tidak terdapat gerakan peristaltik sepanjang esofagus sebagai reaksi proses menelan. Tekanan sfingter esofagus bagian bawah normal atau meninggi dan tidak terjadi relaksasi sfingter pada waktu menelan.2,13

H. Penatalaksanaan
Sifat terapi pada akalasia hanyalah paliatif, karena fungsi peristaltik esofagus tidak dapat dipulihkan kembali. Terapi dapat dilakukan dengan memberi diet tinggi kalori, medikamentosa, tindakan dilatasi, psikoterapi, dan operasi esofagokardiotomi (operasi Heller).2
1. Terapi Non Bedah
a. Terapi Medikasi
Pemberian smooth-muscle relaxant, seperti nitroglycerin 5 mg SL atau 10 mg PO, dan juga methacholine, dapat membuat sfingter esofagus bawah relaksasi dan membantu membedakan antara suatu striktur esofagus distal dan suatu kontraksi sfingter esofagus bawah. Selain itu, dapat juga diberikan calcium channel blockers (nifedipine 10-30 mgSL) dimana dapat mengurangi tekanan pada sfingter esofagus bawah. Namun demikian hanya sekitar 10% pasien yang berhasil dengan terapi ini. Terapi ini sebaiknya digunakan untuk pasien lansia yang mempunyai kontraindikasi atas pneumatic dilatation atau pembedahan.
b. Injeksi Botulinum Toksin
Suatu injeksi botulinum toksin intrasfingter dapat digunakan untuk menghambat pelepasan asetilkolin pada bagian sfingter esofagus bawah, yang kemudian akan mengembalikan keseimbangan antara neurotransmiter eksitasi dan inhibisi. Dengan menggunakan endoskopi, toksin diinjeksi dengan memakai jarum skleroterapi yang dimasukkan ke dalam dinding esophagus dengan sudut kemiringan 45¬į, dimana jarum dimasukkan sampai mukosa kira-kira 1-2 cm di atas squamocolumnar junction. Lokasi penyuntikan jarum ini terletak tepat di atas batas proksimal dari LES dan toksin tersebut diinjeksi secara caudal ke dalam sfingter. Dosis efektif yang digunakan yaitu 80-100 unit/mL yang dibagi dalam 20-25 unit/mL untuk diinjeksikan pada setiap kuadran dari LES. Injeksi diulang dengan dosis yang sama 1 bulan kemudian untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun demikian, terapi ini mempunyai penilaian terbatas dimana 60% pasien yang telah diterapi masih tidak merasakan disfagia 6 bulan setelah terapi; persentasi ini selanjutnya turun menjadi 30% walaupun setelah beberapa kali penyuntikan dua setengah tahun kemudian. Sebagai tambahan, terapi ini sering menyebabkan reaksi inflamasi pada bagian gastroesophageal junction, yang selanjutnya dapat membuat miotomi menjadi lebih sulit. Terapi ini sebaiknya digunakan pada pasien lansia yang kurang bisa menjalani dilatasi atau pembedahan.1,2
c. Pneumatic Dilatation
Pneumatic dilatation telah menjadi bentuk terapi utama selama bertahun-tahun. Suatu balon dikembangkan pada bagian gastroesophageal junction yang bertujuan untuk merupturkan serat otot dan membuat mukosa menjadi intak. Persentase keberhasilan awal adalah antara 70% dan 80%, namun akan turun menjadi 50% 10 tahun kemudian, walaupun setelah beberapa kali dilatasi. Rasio terjadinya perforasi sekitar 5%. Jika terjadi perforasi, pasien segera dibawa ke ruang operasi untuk penutupan perforasi dan miotomi yang dilakukan dengan cara thorakotomi kiri. Insidens dari gastroesophageal reflux yang abnormal adalah sekitar 25%. Pasien yang gagal dalam penanganan pneumatic dilatation biasanya di terapi dengan miotomi Heller.1,2
2. Terapi Bedah
Suatu laparascopic Heller myotomy dan partial fundoplication adalah suatu prosedur pilihan untuk akalasia esofagus. Operasi ini terdiri dari suatu pemisahan serat otot (mis: miotomi) dari sfingter esofagus bawah (5 cm) dan bagian proksimal lambung (2 cm), yang diikuti oleh partial fundoplication untuk mencegah refluks. Pasien dirawat di rumah sakit selama 24-48 jam, dan kembali beraktfitas sehari-hari setelah kira-kira 2 minggu. Secara efektif, terapi pembedahan ini berhasil mengurangi gejala sekitar 85-95% dari pasien, dan insidens refluks postoperatif adalah antara 10% dan 15%. Oleh karena keberhasilan yang sangat baik, perawatan rumah sakit yang tidak lama, dan waktu pemulihan yang cepat, maka terapi ini dianggap sebagai terapi utama dalam penanganan akalasia esofagus. Pasien yang gagal dalam menjalani terapi ini, mungkin akan membutuhkan dilatasi, operasi kedua, atau pengangkatan esofagus (mis: esofagektomi).10,13

I. Komplikasi
Beberapa komplikasi dan akalasia sebagai akibat an retensi makanan pada esofagus adalah sebagai berikut:1
1. Obstruksi saluran pethapasan
2. Bronkhitis
3. Pneumonia aspirasi
4. Abses paru
5. Divertikulum
6. Perforasi esofagus
7. Small cell carcinoma
8. Sudden death.

J. Prognosis
Prognosis Achalasia bergantung pada durasi penyakit dan banyak sedikitnya gangguan motilitas, semakin singkat durasi penyakitnya dan semakin sedikit gangguan motilitasnya maka prognosis untuk kembali ke ukuran esofagus yang normal setelah pembedahan (Heller) memberikan hasil yang sangat baik.13 Pembedahan memberikan hasil yang lebih baik dalam menghilangkan gejala pada sebagian besar pasien dan seharusnya lebih baik dilakukan daripada pneumatic dilatation apabila ada ahli bedah yang tersedia. Obat-obatan dan toksin botulinum sebaiknya digunakan hanya pada pasien yang tidak dapat menjalani pneumatic dilatation dan laparascopic Heller myotomy (Lansia). Follow-up secara periodik dengan menggunakan esofagoskopi diperlukan untuk melihat perkembangan tejadinya kanker esofagus.9,14

KESIMPULAN

Akalasia esofagus, atau dikenal juga dengan nama Simple ectasia, Kardiospasme, Megaesofagus, Dilatasi esofagus difus tanpa stenosis atau Dilatasi esofagus idiopatik adalah suatu gangguan neuromuskular. Istilah achalasia berarti “gagal untuk mengendur” dan merujuk pada ketidakmampuan dari lower esophageal sphincter (cincin otot antara esophagus bagian bawah dan lambung) untuk membuka dan membiarkan makanan lewat kedalam lambung. Kegagalan relaksasi batas esofagogastrik pada proses menelan ini menyebabkan dilatasi bagian proksimal esofagus tanpa adanya gerak peristaltik.

Akalasia biasanya mulai pada dewasa muda walaupun ada juga yang ditemukan pada bayi dan sangat jarang pada usia lanjut. Biasanya gejala yang ditemukan adalah disfagia, regurgitasi, rasa terbakar dan nyeri substernal, penurunan berat badan dan rasa penuh pada substernal.

Diagnosis Akalasia Esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran radiologik, esofagoskopi dan pemeriksaan manometrik. Pada pemeriksaan radiologik, tampak dilatasi pada daerah dua pertiga distal esofagus dengan gambaran peristaltik yang abnormal serta gambaran penyempitan di bagian distal esofagus atau esophagogastric junction yang menyerupai seperti bird-beak like appearance.

Sifat terapi pada akalasia hanyalah paliatif, karena fungsi peristaltik esofagus tidak dapat dipulihkan kembali. Terapi dapat dilakukan dengan memberi diet tinggi kalori, medikamentosa, tindakan dilatasi, psikoterapi, dan operasi esofagokardiotomi (operasi Heller). Pembedahan memberikan hasil yang lebih baik dalam menghilangkan gejala pada sebagian besar pasien dan seharusnya lebih baik dilakukan daripada pneumatic dilatation apabila ada ahli bedah yang tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ritcher, I.E. 1999. Achalasia. In: Castell, D. O, Ritcher, I.E. The Esophagus, 4th edition. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia. Pg. 6-221
2. Siegel, G. Leighton. 1998. Penyakit Jalan Napas Bagian Bawah, Esofagus dan Mediastinum Pertimbangan Endoskopik. Dalam: Adams, G. L., Boies, Lawrence R., Higler, P. A. BOIES Buku Ajar Penyakit THT, edisi 6. Jakarta. EGC. Hal. 4-462
3. Sjamsuhidajat. 1997. Wim de Jong Buku Ajar Itmu Bedah. EGC. Jakarta. Hal. 9-676
4. D., Emslie, Smith, et all. 1988. Textbook of Physiology, 11th edition. Churchill Livingstone, English Language Book Society. London. Pg. 52-239
5. Soepardi, A. Efiaty, Iskandar, Nurbaiti. 2001. Akalasia. Dalam: Buku Ajar llmu Kesehatan Telinga-Hidung-Tenggorok Kepala Leher. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. Hal: 2-240
6. Jacob, J. Ballenger. 1997. Esofagologi. Dalam: Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher, Edisi 13, Jilid 2. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal. 76-645
7. Nelson. 2005. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. EGC. Jakarta. Hal. 1298
8. Ismail, Ali. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid ll. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Hal. 320-322
9. Patti, Marco. Achalasia. http://www.emedicine.com. 2010. Accessed on: August 22th, 2010
10. Marks, Jay W., Lee, Dennis. Achalasia. http://www.medicinenet.com. 2010. Accessed on: August 22th, 2010
11. Rasad, Syahriar. 2005. Radiologi Diagnostik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 406
12. Caffey, John. 1973. Pediatric X-ray Diagnosis Volume 2. Year Book Medical Publisher Incorporated. Chicago. USA. Hal. 1696-1673
13. Goyal, Raj K. 1994. Diseases of The Esophagus. In: Jeffers, J. D., Boynton, S. D. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 13th edition. McGraw-Hill, Inc. New York. Pg. 1358
14. J., Finley R. 2002. Achalasia: Thoracoscopic and Laparoscopic Myotomi. In: Pearson F.G. MD, Cooper J.D. MD, et all. Esophageal Surgery, 2nd edition. Churchill Livingstone. New York. Pg. 76-569

Previous Older Entries