Praktikum Parasit

Hhh… rasanya udah lama sekali enggak menginjakkan kaki di hutan Layo kira-kira hampir 1 bulan lebih. Tidak heran bila perjalanan ke Layo ini terasa seperti tur pulang kampung alias mudik. Kutatap sekelilingku dengan seksama berusaha mengidentifikasi apakah ada perubahan di sana selama 1 bulan terakhir, misalnya di sana kini sudah ada IS (Inderalaya Square), ISC (Inderalaya Sport Center) atau Pempek Cek Isa cabang Layo, tapi ternyata semua tetap sama, tidak ada yang berubah. Padahal emang enggak ada pembuatan mall yang dalam 1 bulan selesai. Namun, menurut kata-kata orang bijak, including me “Di dunia ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan”, itulah yang terjadi,,, kini situasinya yang telah berubah. (Everybody’s changing and I dont feel the same.)

Tak terasa kami pun sampai di Layo. Akhirnya, bisa bergerak juga setelah 40 menit di mobil terus, pegel banget rasanya. Sambil menunggu praktikum di mulai, aku melihat-lihat kelas yang biasa kami pakai buat kuliah dulu yang masih tegak dengan kokohnya. Sekarang kelas itu udah dipake adek-adek tingkat. Wah… ternyata saya ini sudah uzur ya, 2 tahun enggak terasa. Sebenarnya dulu saat ujian, aku pernah berharap mendapat jarkom yang berisi sebagai berikut.

“Asw. Teman-teman… Innalillahi wa Innailaihi Radji’un… Kelas kita terbakar, jadi besok kita enggak jadi ujian. Mari kita doakan semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT ya teman-teman. Amin. Ilham.”

Kalau sekarang, aku malah enggak mau kelas itu terbakar, terlalu banyak kenangan selama 1 tahun pertama dikelas itu mulai dari yang menarik sampe yang sedih. Mulai detik ini, kelas itu sudah kunobatkan sebagai aset sejarah seorang Nita.

Akhirnya, 3 serangkai pun datang dan praktikum pertama “Parasitologi” pun di mulai. Seperti biasa, setiap yang namanya praktikum parasit pasti di dahului oleh Pre-test dan di akhiri dengan Post-test. Pembantaian di Lab Parasit ternyata semakin menjadi-jadi. Dulu kami hanya mendapat pertanyaan seperti sebutkan dan jelaskan, tapi sekarang pertanyaannya agak lebih artistik, gambarkan morfologi dari tropozoit dan kista E. Coli dll. Ampun deh… Aku enggak ada bakat di gambar-menggambar, terakhir aku coba menggambar durian, anak-anak pada bilang itu Salak. Namun, tiada henti-hentinya kuucapkan Alhamdulillah, walau gambarnya tampak seperti ular, kecoa dll hasilnya lumayan memuaskan. He2..😀

Selesai pre test kami di suruh menggambar semua preparat cacing dan amoeba yang ada di mikroskop. Ini benar-benar pembantaian massal yang layak dimasukkan ke reality show “Kejamnya Dunia”. Ketika sedang menggambar, aku bergumam “Aih, nak mati rasonyo!” Tiba-tiba, ada suara menjawab “Balek ke Sukarame yo?” Aku kaget! Tanganku mulai bergetar dan hanya bisa meneguk air ludah aja. Cacing dalam mikroskop ini berbicara. Ku tatap lekat-lekat cacing yang sudah tidak berdaya dengan ukuran 5×0.2 mm ini. Hm… Tidak mungkin! Aku pun menoleh, ternyata suara tadi adalah Pak Iskandar, salah satu anggota dari 3 serangkai. Aku lumayan dekat dengan Pak Is karena beliau pernah jadi Tutorku waktu Diskusi Kelompok. “Bukan, Pak.” Jawabku sopan. “Tadi katonyo nak mati. Ke Sukarame be… banyak kuburannyo.” Ujar bapak itu sambil cekikikan. Kejadian seperti ini juga pernah terjadi sebelumnya. Waktu itu aku mo pergi ke Inderalaya, lalu ketemu bapak itu. Beliau bertanya, “Nak kemano?”. “Praktikum ke Layo, Pak.” Jawabku sambil tersenyum. “Nah, gek mati!” Ujarnya. “Astagfirullah… Jangan, Pak! Kagek kejadian nian, belum kawin nah…” Teriakku panik sekaligus takut karena denger sumpah serapahnya. Bapak itu cuma senyum-senyum aja, setelah mengucapkan “Amin”, dia pun pergi. Aku hargai kemampuan bapak ini bercanda, walau terkesan agak seram dan garing. “Kalo cak itu aku balek ke kandang kawat be, Pak. Banyak saudara di sano.” Jawabku sambil ketawa garing. Tertawanya malah menjadi-jadi sekarang, persis kayak kuda lumping makan beling, “Iyo ye, rai kau kan cak Cino!” Setelah dia puas tertawa, dia pun pergi.

Aku hanya meyakinkan diriku yang tertekan ini dengan bergumam, “Hm… Anjing menggonggong, Kafilah tetap berlalu”. Lalu, Aku menuju ke mikroskop berikutnya, di sana ada Angga. Dia juga sedang melihat-lihat cacing. “Ga’, Cacing apo?” Tanyaku. “Hymenolipsis nana. Keren nian, Nit!” jawabnya dengan mata berbinar-binar seperti habis lihat cewek cantik. Memang namanya Nana, tapi enggak perlu sebelebay itu kan. “Mano? Aku nak jingok.” Kataku singkat. Dia pun membiarkan aku melihat mikroskop. Heh… PUTIH SEMUA! Dasar mata rabun tapi belagu enggak mau pake kacamata! Aku pun berniat memainkan Mikronya agar gambarnya terlihat jelas. Belumsempat aku menyentuh mikro, dia berteriak “Nit, jangan dimaini lagi! Itu sudah paling jelas.” Teriaknya sok panik. “Dakpapo, Ga’! Mato wong kan fokusnyo beda-beda!” Aku masih berusaha sabar. Dia diam dan kulanjutkan melihat-lihat. Ketika aku menggambar, dia melihat lagi ke mikroskop dan berteriak “Nit, apo yang kau jingok? Putih galo!”. “Aku kan lah bilang, fokus mato wong beda-beda.” Jawabku singkat sambil melanjutkan gambar. Dia diam lagi, selang 30 detik kemudian, “Nit, ngapo putih galo ye?”. Aku tatap wajahnya sesaat. Ada 2 hal yang terpikirkan dalam benakku. Pertama, “Ga’, caknyo membran timpani kau lah ditutupi samo serumen plaque. Aku sarankan kau ke dr. THT”. Dua, “Ga’, Caknyo saraf otak kau ada yang putus. Aku sarankan kau ke dr. Saraf”. Namun, aku putuskan untuk ngabur jauh-jauh dari dia, sebelum aku benar-benar jadi gila. Kembali kunikmati wisata cacingku.

Kini tibalah saatnya untuk post test. Soalnya tetap sama, menggambar indah. Ternyata wisata cacingku tadi lumayan membuahkan hasil, soalnya tidak terlalu jauh melenceng dengan apa yang kuamati. Ketika akan keluar ruangan, aku lagi-lagi menggerutu “Caknyo otak aku lah penuh dengan setuo cacing-cacing tadi.” Tidak kusangka pembicaraanku tadi tersadap oleh Bu Maznah (Spesialis Amuba) yang ada di dekatku. Dia terlihat tertawa geli, kemudian dia membelai kepalaku. Mungkin itulah cara beliau menunjukkan rasa simpati terhadap salah satu muridnya yang badung ini. Jujur, aku jadi terharu. Aku menyesal karena aku tidak memberikan tempat buat Amuba juga di otakku, hanya cacing. Huwaaaa… >.<

Mengenai praktikum selanjutnya “Histologi” tidak ada kejadian yang menarik. Yang aku ingat hanya “Tebak Gambar” yang dipimpin oleh dr. Azhari. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.

Dengan demikian berakhirlah kisah-kisah pertarunganku di Hutan Layo hari ini, 24 Juni 2008. Banyak banget kejadian-kejadian yang aneh dan menarik. Sekian dan tetap semangat! (13N)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: