PriceLeSs MomeNT

Ternyata hari ini, 7 Mei 2008, kuliahnya cepat selesai. Belum jam 12 udah pada kelar semua. Aku dan Eng pun udah siap-siap pulang. Sekilas tentang Eng, dia adalah teman baikku dari SMP, sekaligus udah kuanggap sebagai adekku nih. Sebenarnya baru jadi teman baiknya waktu SMA. Waktu SMP, kami lumayan sering saling mengejek tapi enggak parah-parah banget, cuma sering sepanggilan nama bapak aja. He2..

Ketika sedang ngobrol diperjalanan pulang, tiba-tiba ada yang menelepon Eng. “Ntar, Nit. Ada yang nelepon!” Seru Rama. “Ya, Ma!” Jawabku singkat sambil mengecilkan volume radio. “Hah… Nita yang nelepon!” Teriaknya. “Apa??” Kataku kaget. Segera ku rapatkan mobil ke pinggir dan mulai mengidentifikasi penelepon. Ternyata benar itu nomorku. Segera kuangkat telepon itu.

“Halo…” kataku pelan. Jujur saja aku takut, jangan-jangan HPku lagi di penjahat. Kini mereka sedang melacak keberadaan teman-temanku sambil mengirimkan sinar infrared tingkat tinggi seperti yang ramai dibicarakan anak-anak di kampusku tadi. “Oy, Nit! Hp kamu ada di aku?” Jawab si penelepon. Mendengar suara itu aku langsung tahu bahwa itu temanku dan Dunia Khayalku tadi runtuh seketika. “Wei! Kamu di mana?” Tanyaku bingung. “Aku di PIM. Kamu ke sini aja!” Katanya. “Oke!” Jawabku cepat. Segera kuputar mobilku menuju PIM. Yah, keluar lagi dah uang pikirku. Padahal mau nabung buat tukar flexi neh.

Kami pun sampai di PIM. Segera kami menuju Bioskop di lantai paling atas untuk menemui HPku tercinta. Kami melewati BreadTalk. Hm… baunya benar-benar menggugah selera. Aku dan Eng berniat untuk membeli roti, pengganjal perut, setelah HP itu kembali ke tanganku. Alhamdulillah, HP ku kembali dengan selamat. Kami pun ngbrol-ngobrol sebentar, lalu berpisah. Setelah itu, aku teringat bahwa di lantai ini banyak counter HP. “Ma, temeni aku lihat-lihat HP dunkz!” Kataku. “Oke!” Jawabnya singkat.

Kami keliling sebentar dan akhirnya menemukan dambaan hati. Aku bertemu dengan jodohku di sana. Si hitam manis, tidak terlalu tinggi dan badannya lumayan berisi. Dia tiada lain tiada bukan adalah CDMA Nokia 2116, sama persis kayak HP Eng. Awalnya, aku masih ragu, tapi setelah survey ke beberapa tempat, aku pun akhirnya memutuskan untuk memiliki HP tersebut. He2… Setelah menetapkan pilihan, kami membeli BreadTalk dan mengahabiskannya dengan beberapa lahapan di Mobil. Subhanallah, rasa rotinya enak sekali dan kami pun pulang.

Sesampai di rumah, aku segera memberitahu Mamong tentang keinginanku untuk membeli Nokia 2116 tadi. Setelah bersikeras, meminta tambahan uang dengan perjanjian penjagalan uang jajan selama 2 bulan. Mamong pun akhirnya menyetujuinya. Aku senang sekali mendengarnya. Segera kutelepon Manda, beliau adalah adik Mamong alias Paman, untuk membelinya. Dalam hitungan jam, HP itu akan menjadi milikku.

Segera kusambut Pamanku. Aku heran kenapa ada dua bungkusan. Yang satu HP, terus satunya lagi apa ya pikirku. Segera kuamati bungkusan kedua dan mulai membukannya. Oh, God… ternyata Mamong membelikan aku Hair Drier baru. Sumpah, banyak banget kejutan hari ini. Hatiku benar-benar berbunga-bunga. Sekarang aku tidak perlu lagi menggunakan Hair Drier yang dapat menyebabkan wangi shampooku hilang akibat bau yang diciptakannya. Terima kasih buat Mamong yang selalu mengerti aku dan Papa yang selalu mendukungku. Aku benar-benar bersyukur punya kedua orang tua seperti mereka. Aku janji, Insya Allah aku akan berusaha membahagiakan mereka.

Malam pun tiba, Bunda Betty mengundang teman-temannya makan di rumah. Wew, rame banget loh. Aku sampe khawatir dengan kemampuan rumah ini menahan bobot mereka. Untung, enggak di lantai dua acaranya. Kalo iya, bisa gawat pikirku. Sudah jadi acara ritual, kalo ada acara begini aku harus standby didepan keyboardku dangan buku-buku lagu untuk menghibur teman-temannya. Sebenarnya ini bukan hal yang baru lagi, tapi malam ini agak sedikit berbeda. Aku mendapat gaji pertama. Penampilanku kali ini dibayar dan aku menghasilkan 200 ribu malam itu. Sebenarnya, aku tidak begitu mempedulikan besar uangnya, tapi permainanku bisa dianggap memuaskan itu yang membuatku jadi lebih bersemangat.

Tak terasa acara pun selesai. Suasana rumah kini kembali hening. Hanya ada suara Mamong, Bunda Betty dan Papa. Tiba-tiba Flexiku berdering, CDMA yang baru kubeli dengan cashing merah kini. Kulihat caller IDnya, nomor yang tidak kukenal, siapa ya yang meneleponku selarut ini? “Halo…” Jawabku. Terdengar suaranya begitu panik, “Nita,Ini Eng… Tadikan aku coba-coba PIN Flexi, terus Flexiku akhirnya keblokir. Dia minta PUK. Gimana neh?” Walah, Eng. Ngapain juga kamu utak-atik passwordnya? “Hm… gitu ya! Tenang, Ma. Sekarang kamu hubungin aja 147. Terus lapor, paling nanti dia minta nomer di belakang kartu kamu. Sebutin aja, terus selesai deh!” Jawabku dengan tenang. “Oh, gitu ya. Oke, Nit. Thx ya. Wasw.” Katanya lega. “Walaikumsalam.” Jawabku.

Hm… hari ini banyak kejadian menarik. Semoga semua kejadian hari ini dapat mendorongku untuk menjadi manusia yang lebih baik. Alhamdulillah, atas segala nikmat yang telah Engkau berikan, Ya Allah. Bye, Nita! HAND. (13N)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: