ResoLuTioN

Hari ini, 6 Mei 2008, sungguh melelahkan. Aku baru saja mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Hal ini bemula dengan datangnya tanteku dari Jakarta kemarin. Kedatangan tanteku itu begitu mendadak sehingga aku belum membereskan kamar. Jadi, aku hanya mengambil sedikit pakaian, buku, tas dan perlengkapan kuliah. Walaupun begitu, kesemuanya itu belum menjadi masalah.

Perlahan-lahan masalah itu muncul. Sudah menjadi acara ritual, bila ada tante aku harus menemaninya ngobrol. Banyak hal yang kami bicarakan mulai dari sistem KPK, Mama Mia, beberapa jenis penyakit bahkan sampai masalah jodoh pun ikut disinggung, yang berakibat hilangnya kesempatan tidur lebih awalku. Kulihat jam hpku ternyata baru jam 11. Ah, enggak apa-apa pikirku. Masih bisa bangun pagi kalau langsung tidur. Hanya ada 1 hal yang aku lupa, malam ini aku harus tidur di tempat yang tidak seharusnya aku tidur. Ketakutanku menjadi kenyataan, aku tidak bisa tidur.

Masalah puncak, aku kesiangan lagi dan telat ke kampus. Kuketuk pintunya, lalu aku pun masuk ke ruang tutorialku. “Maaf, Pak. Saya terlambat.” Kataku dengan sopan. “Siapa nama kamu?” Tanya bapak itu dengan nada tinggi. “Nita, Pak.” Jawabku halus. Dia menconteng namaku, minus 1 tak terelakkan lagi pikirku, kemudian menyodorkan kertas scenario padaku. Aku ambil kertas itu dan segera mencari tempat duduk. Ketika aku mencari tempat duduk, dia berkata dengan ketus “Biasanya anak perempuan itu jarang telat.” Aku diam berusaha tidak menggubris pembicaraan bapak itu dan duduk. Tutorial pun dimulai.

20 menit kemudian, temanku, Yenni datang. Ternyata dia lebih telat dariku. Dia kelihatan begitu panik, sampai lupa mengucapkan maaf dan langsung mencari tempat duduk. Ketika dia mencari tempat duduk, bapak itu memanggilnya untuk memberikan scenario tanpa berkomentar apa-apa. Jujur, saat itu aku sudah merasakan ada hal yang aneh terjadi di sini.

Kami pun melanjutkan tutorial kami. Semua membahas diskusi itu dengan serius. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10. Diskusi pun berakhir. Bapak itu membagikan absen dan lembar nilai untuk ditandatangani. Ternyata untuk kedisplinan aku mendapat nilai minus 1. Dugaanku benar, tidak ada ampun. Lalu kulihat juga nilai Yenni, sebenarnya terlihat bukan sengaja dilihat, dia juga telat sama sepertiku malah lebih lama dariku. Namun, betapa terkejutnya aku, nilai kedisplinannya hanya ditulis 0. Jujur, aku tidak terima dengan perlakuan bapak itu.

Aku tidak menyangka ternyata ada dosen yang bermain kasar seperti itu terhadap mahasiswanya. Bagaimana mungkin mereka bisa mengajari muridnya untuk berdignity bila mereka juga tidak berdignity. Sesaat aku benar-benar merasa kecewa atas ketidakprofesionalan bapak itu. Namun, ada hikmah yang dapat aku ambil dari kejadian ini yaitu aku tidak akan pernah telat lagi seumur hidupku. Aku akan berusaha untuk tidak membuat kesalahan lagi dalam hidupku. Jadi, tidak ada seorang pun yang dapat melakukan hal yang sama seperti ini lagi padaku. (13N)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: