Tak Kenal maka Tak Sayang


Penangkaran 5 Spesies Langka di Lab PK

Hari itu aku praktikum PK; aku, Yeyen, dan Sari mendapat giliran kedua, sedangkan Wati dan Puput giliran ke 3. Namun. untuk menghindari telat kami datang lebih awal ke Lab PK. Sesampai di sana, Pak Hasan datang lalu menyuruh kami pindah tempat. Kami pun pindah. Setelah pindah, beliau menyuruh kami masuk ruangan padahal seharusnya itu bukan giliran kami. Tentu saja kami sangat senang dan ikut masuk.

Setelah dalam ruangan, tiba-tiba Pak Hasan marah. Dia memanggil nama aku dan teman-temanku yang masuk bukan gilirannya. Kami pun ketakutan setengah mati. Bapak ini terkenal seram. Kalau kami bicara pas pleno, kami bakal di suruh duduk di lantai depan kelas. Pikiran negative berkecamuk dalam benakku, “Tidak salah lagi, aku tidak akan diizinkan lagi ikut praktikum PK. Cita-citaku sebagai dokter terhenti di sini. Papa… Mamong… Maafkan aku.”. Lalu, dimasukkanlah kami dalam ruangan kantornya alias dikurung.

Suasana hening begitu menyeruak, walaupun kami terlihat tenang tapi masing-masing dari kami tahu, “Ini adalah masalah besar”. Pak Hasan pun masuk ruangan, kami segera menunduk sebagai ungkapan penyesalan kami. Beliau diam saja, setelah menghidupkan remote AC, beliau pun keluar. Kami terpelongo sesaat. Tiba-tiba pintu terbuka lagi, secepat kilat kami menunduk lagi, berhenti melongo. “Sambil menunggu, buku di atas meja itu boleh kalian baca.” Kata Pak Hasan sambil tersenyum. Kami pun senang, terharu dan nyaris menitikkan air mata. Ternyata beliau tidak marah. Ketika itu pula, aku bergumam dalam hati, “Ini lah wajah sebenarnya dari Pak Hasan. Aku telah salah menilai selama ini.”

Itu semua terbukti, ketika aku ikut PBL. “Yang mana namanya Nita?” Tanya Pak Hasan. “Saya, Pak.” Jawabku sambil mengangkat tangan. “Hm… kamu ya… Nita, saya dengar mahasiswa sering bilang saya ini “Dangerous” alias seram? Bagaimana menurut kamu?” Tanya beliau sambil tersenyum. “Awalnya… Iya, Pak. Saya sangat takut dengan bapak karena bapak sering marah.” Jawabku singkat.

Awalnya, teman-temanku hanya menatapku dengan iba tapi tak lama kemudian mereka menimpali dan ajang curhat pun dimulai.Beliau tertawa mendengar curhatan kami. Akhirnya, beliau pun berkata, “Saya hanya ingin menjadi ayah. Ada pepatah, sayang berarti harus dipukul.” Kalimat yang diucapkannya itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Hujan dan Telat
Kulihat jam dindingku, “Gawat, udah jam 7 lewat… Telat lagi!” Segera aku bersiap-siap ngacir ke kampus. Pas di jalan, tiba-tiba ada SMS, “Nit, dr. Budi.” Sumpah, aku kaget setengah mati. Ini benar-benar di luar dugaan. Dosen super killer satu ini paling enggak suka liat murid yang telat. Segera kupercepat laju mobilku. Tiba-tiba terlintas niat busuk di otakku. “Cakmano kalo aku idak masuk be ye? Kan dak ketahuan jugo!” Khayalku sambil tersenyum jahat. “You Have a Call”, HPku berbunyi lagi, “Nit, siapo yang idak dateng… dak boleh melok SOCA.” Mampus aku! Aku di DO pas Blok 13. Apa kata dunia? Ngabur!

Sesampai di kampus, kulihat temanku udah pada berdiri semua. Sedangkan aku, udah enggak boleh masuk ruangan lagi. Bagus… Selamat tinggal SOCA! Namun, aku tidak sendirian, satu per satu temanku menyusul. Hampir ½ kelas pada telat semua. Anak-anak pun panik, hampir 30 menit kami berdiri di luar. Ada Satu hal yang membuatku tidak habis pikir, di saat-saat seperti itu, aku masih sempat makan pempek “Kapal Selem – Pempek Telor Besar” buatan temenku sebanyak 1 buah. Cape deh!

Setelah menunggu 1 jam, kami disuruh masuk. Berdiri lagi sampai dengan pelajaran selesai. Sambil memperhatikan pelajaran, aku pun melanjutkan makan pempek kapal selemku yang 1 lagi. Hanya ini yang membuat aku tenang. Halah…

Setelah itu, kami disuruh menghadap, buat laporan kelompok masing-masing. Sebelum dikumpul, harus di acc dulu. Saat acc inilah, aku sadar ternyata Pak Budi adalah orang yang baik dan lucu. Pemikirannya simple dan praktis. Walau terkesan sadis, beliau tidak pendendam. Cool banget gitu loh! Sosok dr, Budi benar-benar berkilau di mataku.

Berikut adalah kata-kata dr. Budi yang sangat aku sukai.

Haji Tomat – Pergi Tobat, Balik Kumat.

Tidak perlu menjadi orang yang idealis, cukup minimalis saja. Jika tidak ingin terganggu, jangan mencampuri urusan orang lain. Jika tidak bisa menolong, jangan menyusahkan orang lain. Jika tidak bisa memberi, jangan mengambil hak orang lain. Jika tidak ingin terluka, jangan menyakiti orang lain. Maka dunia ini akan aman.

Ketidak beruntungan itu akan masuk, melalui jendela yang kita bukakan untuknya.

Kesimpulan, “Tak Kenal Maka Tak Sayang” ^.^

5 Comments (+add yours?)

  1. Nita
    Aug 12, 2008 @ 21:36:00

    Lah, kan itu panggilan kau di kampus. Aku tu cuma berusaha membuat semirip mungkin. “Wati” masa’ jadi “Vee”. Kan jauh nian!He2…Makonyo bicek… Bantui aku ni bikin blog. Terimo hasil jadi be. Sampe jam 3 malem tau dak ak buatnyo. :(Mengenai pengkhianatan teman-teman kita dengan berteriak dan menelepon 14045 itu, Iyo jugo yo, untung kau ingeti aku. Ide gilo yang sikok itu lupo karena terlalu terobsesi dengan judul. Aku akui, aku Miss… Jadi ilang kegiloan2 kitonyo. Yswdah, Thx nian yo, Wati. Eh, salah… maksudku Vee, tanpa kamu blog ini bukan apa-apa. Hiks3x… Jadi terharu.Have a Nice Holiday!Cy ^.^

    Reply

  2. vee
    Aug 12, 2008 @ 21:09:00

    hmm,
    kisah penangkaran 5 spesies nyo dak lucu edhan,,

    pertamo, karena namo aku disamarkan dgn tidak wajar (dak galak lagi aku comment kalo namo samarannyo jelek cemitu)

    keduo, kan la kusuruh langsung dibuat blog, kisah lucu sebenernyo dak sesimple itu edhan,
    ai la, tepotong galo kisah lucunyo…

    cemano dgn percakapan mengenai pikiran2 brutal kito?
    mulai dari langsung ngacir waktu nak di-tangkar-i (halah) dan kemudian teman2 sekelas kito bakal menghianati kito dgn membantu si Pak Hasan ini menangkap kito sambil tereyak2 penuh sukacita, “ini pak, ini na pak, kami sudah berhasil menangkap spesies langka pesanan bapak”, disusul dengan teriakan yg lain, “siap pak, kami juga sudah berhasil menangkap spesies lainnya”, sampe niat nak telpon 14045?

    harusnyo blog itu langsung dibuat sesegera mungkin, taste nyo ilang banget dah….kasian aku dengan kisah yg seharusnyo jadi topik brutal ini, huh…..

    yang aku senengi malah kisah pak Budi,

    edhan, aku baru tau kau sempet2nyo makan pempek di belakang sewaktu aku disikso (bahasa lain presentasi) di depan…..

    trus emang keren kato2 dokter budi nyo…..ck, ck, ck, keren nean, gilo, dokter sikok ini, walaupun killer n suka senyum sinis menyakitkan, tp ini mah namonyo sudah bukan minimalis lagi, tp idealis edhan….saLLLLuuuuuuuuuTTTT

    Reply

  3. italina89
    Aug 15, 2008 @ 05:56:00

    ha..ha..ha..
    jadi lucu critanya stelah vee alias wati kasih comment..he..he..he..Piss..

    masih sempet aja tuh nyelem ke pempek..!!!

    Hmmm. kata2 dr.budi, sampe berkali-kali aku baca…
    dalem banget maknanya.!!!!!

    Reply

  4. Nita
    Aug 16, 2008 @ 09:19:00

    Iya betul…Selera humor Elvi emang paling mantep…Melihat comment2 di blog ini, sepertinya pamor dr. Budi jadi semakin meningkat sekarang.Penulis jadi pengen buat dr. Budi’s Fans Club.Hehehee…Hidup dr. Budi!

    Reply

  5. miTadRiani
    Aug 30, 2008 @ 13:36:00

    Hai bos nita!!
    Hahahahaha~
    Lamo nian dak updet blognyoo…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: