Proposal Pelayanan Kesehatan “Faktor Resiko dan Bahaya Striktur Uretra”

I.    PENDAHULUAN

I.1 Fakta deskriptif

Uretra merupakan bagian terpenting dari saluran kemih. Pada pria dan wanita, uretra mempunyai fungsi utama untuk mengalirkan urin keluar dari tubuh. Saluran uretra juga penting dalam proses ejakulasi semen dari saluran reproduksi pria. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra.

Striktur Uretra adalah Penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada uretra dan/ atau pada daerah peri uretra.1,2,3 Striktur uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama sekali tidak dapat mengalirkan urin keluar dari tubuh. Urin yang tidak dapat keluar dari tubuh dapat menyebabkan banyak komplikasi, dengan komplikasi terberat adalah gagal ginjal.4

Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian dunia tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita, karena uretra pada wanita lebih pendek dan jarang terkena infeksi. Sesuai data yang penulis peroleh melalui Medical Record yang dirawat di Perawatan Bedah Urologi Perjan RS DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar  pada tahun 2004 dari Januari – Nopember, terdapat 19 orang yang menderita striktur uretra dimana penderita laki-laki sebanyak 18 orang (94,73 %) sedangkan perempuan sebanyak 1 orang (5,26 %). Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan striktur. Orang dapat terlahir dengan striktur uretra, meskipun hal itu jarang terjadi.5

I.2 Analisis Teoritis dan Empirik

Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap peradangan kronik atau cedera. Radang karena gonore merupakan penyebab penting, tetapi radang lain yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin lain, juga merupakan penyebab uretritis dan periuretritis. Kebanyakan striktur ini terletak di uretra pars membranasea, walaupun juga bisa ditempat lain.

Trauma uretra dapat terjadi pada fraktur panggul dan karena cedera langsung, misalnya pada anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda lelaki sehingga terjadi cedera kangkang.6 Yang juga tidak jarang terjadi ialah cedera iatrogenik akibat kateterisasi atau instrumentasi.7

Faktor risiko ISK ditinjau dari teori Blum dibedakan menjadi empat faktor yaitu: faktor biologi, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (tabel 1)

Faktor Biologi

Faktor Lingkungan

Faktor Perilaku

Faktor Pelayanan Kesehatan

1. Pria lebih  beresiko dari pada wanita.2. Gangguan anatomis dan gangguan saluran kemih lainnya3. Penggunaan alat bantu pada saluran kemih4. Penyakit sistemik atau obat-obatan yang menurunkan sistem imun 1. Lingkungan dengan sanitasi yang kurang baik (tidak tersedianya air bersih untuk cebok, penggunaan toilet duduk yang kurang memadai) 1. Higiene personal yang rendah2. Kurangkesadaran untuk berobat3. Keterlambatan dalam berobat4. Tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan

 

1. Minimnyapengetahuan petugas kesehatan2. Kurangnyasarana prasarana yang memadai3. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi

4. Tidak adanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit

5. Kurangnya informasi yang diberikan pada masyarakat baik mengenai penyakit, sanitasi(lingkungan), dan perilaku masyarakat


Penyebab lain terjadinya striktur uretra ialah tindakan-tindakan bedah seperti bedah rekonstruksi uretra terhadap hipospadia, epispadia, kordae, dan bedah urologi. Striktur uretra paling sering terjadi pada pria karena uretra pria lebih panjang daripada uretra wanita. Penyebab lainnya ialah tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan congenital, namun jarang terjadi. Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang memiliki riwayat penyakit menular seksual, episode uretritis berulang, atau hipertrofi prostat benigna.8

II.1       RUMUSAN MASALAH PROGRAM

Striktur uretra menyebabkan retensi urin di dalam kantung kemih. Penumpukan urin dalam kantung kemih beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi, yang dapat menyebab ke kantung kemih, prostat, dan ginjal. Abses di atas lokasi striktur juga dapat terjadi, sehingga menyebabkan kerusakan uretra dan jaringan di bawahnya.Selain itu, resiko terjadinya batu kandung kemih juga meningkat, timbul gejala sulit ejakulasi, fistula uretrokutaneus (hubungan abnormal antara uretradengan kulit), dan gagal ginjal (jarang).10

Banyak faktor yang menjadi penyebab striktur uretra, namun yang menjadi masalah utama adalah kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya dari striktur uretra ini, terutama berkaitan dengan faktor-faktor penyebab striktur uretra. Dimana hal ini berkaitan dengan perilaku masyarakat seperti seks bebas, mengabaikan cedera dan higienitas organ reproduksi yang tidak baik sehingga angka kejadian meningkat. Sarana prasarana yang kurang memadai merupakan faktor yang penting dalam menyebabkan penderita yang datang berobat terlambat didiagnosis dan pengobatan menjadi tidak tepat atau bahkan tidak adekuat. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat juga petugas kesehatan mengenai striktur uretra.

III.    TUJUAN PROGRAM

III.1   Tujuan Umum

Meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang striktur uretra.

III.2   Tujuan khusus

Meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang faktor risiko dan bahaya striktur uretra didaerah Sekip Palembang tahun 2011.

IV. PROGRAM KEGIATAN

Alternatif program untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan warga adalah:

  1. Mengadakan penyuluhan ke petugas kesehatan dan warga secara langsung mengenai striktur uretra mulai dari pegertian, faktor risiko, gejala, bahaya dan penatalaksanaan striktur uretra serta memberikan informasi-informasi terbaru mengenai striktur uretra. (Materi disesusaikan dengan pendidikan target)
  2. Membuat brosur-brosur yg berisikan informasi ringkas dan lengkap tentang striktur uretra untuk dibagikan kepada warga dan petugas kesehatan.
  3. Menganjurkan kepada pemerintah setempat agar memasukkan penyuluhan berkala bagi warga dan petugas kesehatan sebagai salah satu program kegiatan rutin.

Alternatif terbaik dalam memecahkan masalah striktur uretra adalah dengan mengadakan penyuluhan ke warga dan petugas kesehatan secara langsung mengenai striktur uretra mulai dari pengertian, faktor risiko, gejala, bahaya dan penatalaksanaan striktur uretra serta memberikan informasi-informasi terbaru mengenai striktur uretra.

Alternatif tersebut dipilih karena yang menjadi masalah utama penyebab striktur uretra adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang faktor risiko dan bahaya dari striktur uretra dan perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan higienitas dan kesadaran untuk berobat. Hal ini menyebabkan diagnosis lambat ditegakkan dan pengobatan menjadi tidak tepat atau menjadi terlambat.

Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan pengetahuan petugas kesehatan dan warga tentang striktur uretra meningkat sehingga warga tahu apa yang harus dilakukan agar terhindar dari penyakit striktur uretra dan petugas kesehatan dapat mentalaksana penyakit ini dengan tepat.

V.  STRATEGI INTERVENSI

Strategi dilakukan dengan mengadakan pendekatan kepada pimpinan dinas kesehatan supaya mendukung program penyuluhan bagi petugas kesehatan dan warga agar dapat diadakan secara rutin dan teratur. Materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah tersebut. Hal ini bertujuan meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan dan masyarakat mengenai penyakit yang mungkin jarang terjadi atau sering terjadi, namun membutuhkan penatalaksanaan yang khusus dan segera. Selain itu, petugas kesehatan dan masyarakat juga dapat menambah pengetahuan terutama mengenai informasi-informasi baru dari dunia kesehatan yang mempunyai hubungan dengan kasus tersebut. Semuanya itu akan berujung pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesadaran berobat. Maka, dapat dilakukan audiensi terhadap pihak Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang dalam usaha untuk mengintervensi pihak dinas agar dapat melakukan sebuah program penyuluhan secara rutin bagi petugas kesehatan dan warga di Sekip Palembang.

VI. RENCANA DAN JADWAL KEGIATAN

VI.1  Rencana Kegiatan Persiapan (Preparation Activities)

  1. Penyusunan proposal, perencanaan anggaran biaya, mengurus izin ke Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang
  2. Melakukan audiensi kepada pihak pemerintah setempat, instansi swasta, dan tokoh masyarakat  dalam usaha memcari dukungan baik dari aspek dana maupun legalitas
  3. Persiapan materi kuliah dan pembicara
  4. Persiapan tempat dan alat
  5. Kegiatan publikasi meliputi pemasangan spanduk dan penyebaran undangan ke petugas kesehatan dan warga Sekip Palembang

VI.2  Rencana Kegiatan Pelaksanaan (Implementation Activities)

Penyuluhan “Faktor Resiko dan Bahaya Striktur Uretra”

Hari/Tanggal    :   Sabtu/ 20 Agustus 2011

Waktu                :   Pukul 08.00-12.00 WIB

Tempat              :   Aula Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang

Sasaran             :   Petugas Kesehatan dan Warga Sekip Palembang

Kegiatan           :   Pengisian kuesioner, kuliah penyegaran, post test

Target               :  100 peserta

VII.     RENCANA PEMBIAYAAN

NO KEGIATAN BIAYA SUMBER DANA
1 Pembuatan proposal Rp. 100.000,00 Dana bantuan dari dinas kesehatan kota
2 Pembuatan dan perbanyakan kuisioner Rp. 1.000.000,00 Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat
3 Spanduk dan undangan Rp. 400.000,00 Kas organisasi
4 Sewa gedung dan peralatan (kursi, sound system, LCD) Rp. 2.000.000,00 Dana bantuan dari pemerintah/instansi swasta/tokoh masyarakat
5 Perbanyakan makalah Rp.   500.000,00
6 Honor 3 orang pembicara@ Rp. 250.000,00 Rp.   750.000,00
7 Konsumsi 100 peserta Rp.  1.000.000,00
8 Dokumentasi Rp.   100.000,00
9 Transportasi Rp.   200.000,00
10 Keamanan Rp.   100.000,00
Total biaya yang dibutuhkan Rp.   4.350.000,00


VIII. EVALUASI

Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi meliputi keberhasilan unsur masukan, proses, dan keluaran.

  1. Keberhasilan unsur masukan: adanya kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kotamadya Palembang dan sponsor, tersedianya dana dan sarana prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan, serta jumlah peserta sesuai dengan target yang ingin dicapai
  2. Keberhasilan unsur proses: terselenggaranya kegiatan penyuluhan “Faktor Risiko dan Bahaya Striktur Uretra” dengan baik
  3. Keberhasilan unsur keluaran: meningkatnya pengetahuan petugas kesehatan dan warga di sekip Palembang tentang faktor risiko dan bahaya striktur uretra sehingga angka kejadian dan komplikasi-komplikasi yang ditimbulkan striktur uretra dapat dikurangi karena bisa dilakukan deteksi lebih dini dan pengobatan yang tepat.

Instrumen yang dipakai untuk mengevaluasi unsur keluaran adalah kuisioner. Kuisioner yang dipakai untuk post test sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pre test. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas kesehatan dan warga sebelum mendapatkan penyuluhan, apakah terdapat peningkatan pengetahuan.

IX.  PEMANTAUAN

Pemantauan hasil kegiatan sangat bermanfaat untuk mengetahui bahwa tujuan yang telah dicapai melalui kegiatan penyuluhan yaitu peningkatan pengetahuan petugas kesehatan dan masyarakat dalam mengenali faktor risiko dan bahaya striktur uretra, tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya. Pemantauan dilakukan dengan cara pengisian kuisioner oleh petugas kesehatan dan warga di Sekip Palembang secara berkala yakni setiap 6 bulan sekali. Kuisioner yang dipakai untuk post test sama dengan kuisioner yang dipakai untuk pre test. Hasil pengisian kuisioner diperhitungkan dalam bentuk persentase dan kemudian dibandingkan dengan persentase pengetahuan petugas kesehatan dan warga pada saat post test. Apabila terjadi penurunan pengetahuan petugas kesehatan dan warga di bawah target yang telah ditentukan sebelum kegiatan, maka perlu dilakukan penyuluhan kembali.

LAMPIRAN: JADWAL PROGRAM PERENCANAAN (GANTT CHART)

No Kegiatan Pekan
I II III IV V VI
1. Menyusun proposal
2. Pencarian dana dan sponsor
3. Pengadaan sarana dan prasarana kegiatan
4. Penyebaran undangan
5. Pelaksanaan kegiatan
6. Evaluasi kegiatan
7. Pemantauan Setiap 6 bulan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Urethral Stricture Diseasehttp://www.urologyhealth.org/ adultconditionsbledder/urethralstricturedisease.html, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  2. Stricture Urethrahttp://www.strictureurethra.com, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  3. Purnomo Basuki B. Striktura uretra, dalam: Dasar-dasar UROLOGI. Ed 2. CV. Sagung, Jakarta, 2003. Hal; 153-156.
  4. Rochani. Striktur Urethra, dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Binarupa Aksara, Jakarta, 1995. Hal; 152-156.
  5. Urethral Stricturehttp://www.drrajmd.com/urology/urethral-stricture, diakses tanggal 18 Agustus 2011.
  6. Trauma Saluran Kemihhttp://www.medicastore.com/sabtu 18september2004/164955, diakses tanggal 17 Agustus 2011.
  7. Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2004. Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih Dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal. 752. EGC. Jakarta.
  8. Sabiston, David C. 1994. Penyakit Striktur Uretra. Dalam: Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah Bagian 2, hal.488. EGC. Jakarta.
  9. Anonim. 2005. Urethral Stricture. Accessed: http://www.patient.co.uk/showdoc/urethral-stricture.html.
  10. Wessells, Hunter. 2005. Urethral Stricture Disease. Accessed: http://depts.washington.edu/uroweb/images/stricture_slide1.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: